Silahturahmi pada Ahad pagi di Masjid Bani Sa'ud

Judul          : Silahturahmi pada Ahad Pagi
Nama         : Novia Rachmadani Wijayanti
NIM           : 175231077
Prodi          : Perbankan Syariah / 1B
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri Surakarta

·         PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang
Masjid sebagai tempat ibadah umat muslim kepada sang maha pencipta yakni Allah SWT, serta masjid tidak digunakan untuk tempat maksiat, karena masjid adalah tempat yang sangat suci. Mengapa demikian? Karena setiap hari masjid digunakan untuk sholat berjamaah, pengajian rutin, TPA dan masih banyak kegiatan yang lainnya.
Sama halnya dengan masjid yang sudah saya observasi pada beberapa waktu yang lalu. yaitu masjid Bani Sa’ud. Masjid ini memiliki keunikan yang sangat jarang kita temui. Untuk lebih mengetahui hal ini lebih lanjut, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara bersama Ketua Takmir Masjid Bani Sa’ud yang merangkap jabatan sebagai Ketua RW 16 di wilayah tersebut, yakni Bapak Henry Prasetyo. Serta saya pun juga mewawancarai salah satu jamaah Masjid Bani Sa’ud yang bernama saudara Ahmad Fauzi.
Mengapa saya mewawancarai mereka berdua? Karena, Ketua Takmir Masjid Bani Sa’ud pun cukup tau mengenai seluk beluk sejarah masjid dan kegiatan-kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh masjid. Serta Ahmad Fauzi ialah salah satu jamaah masjid yang turut ikut serta dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masjid, mulai dari sholat berjamaah (sholat isya, subuh, dzuhur, ashar, dan maghrib serta sholat jumat), pengajian rutin, sampai hal unik yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini.Yaitu kegiatan makan bersama setelah sholat subuh pada ahad pagi yang pada beberapa bulan terakhir baru dilaksanakan.
      Kegiatan makan bersama setelah sholat subuh pada ahad pagi ini ialah salah satu keunikan yang dimiliki oleh Masjid Bani Sa’ud. Karena, kegiatan ini sangat jarang ditemukan dan dilakukan pada masjid kebanyakan. Jikalau ada pasti tidak rutin dilaksanakan pada satu minggu sekali, bisa jadi setelah beberapa minggu kemudian.

·         PEMBAHASAN
I.                   Sejarah Masjid
Masjid yang terletak di bagian utara Perumahan Josroyo indah, Jaten RW 16 ini mulai dibangun pada tahun 1992 dan diresmikan pada bulan April tahun 1994. Mengapa baru terpikirkan untuk membangun masjid? Karena, pada saat itu di wilayah tersebut masih belum banyak bangunan masjid serta banyaknya penduduk yang mulai berkembang pada saat itu, maka tercetuslah ide para warga untuk membangun masjid. Pada masa itu masjid disana sangatlah langka. Dan hanya ada satu masjid saja, itu pun fasilitas dari pihak Perumahan.
Masjid yang sudah ada pada saat itu adalah Masjid Muhajirin, yang terletak paling ujung sebelah barat perumahan dan didekat tempat pemakaman umum (TPU). Karena dahulu masjidnya susah dijangkau oleh para warga dan warga pun juga susah apabila ingin mengikuti kegiatan yang diadakan oleh masjid tersebut. Maka, sebelum ada masjid Bani Sa’ud dahulu warga memiliki ide agar menciptakan sebuah mushola di rumah warga yang kosong.
Sebelum berdiri mushola, masih banyak warga yang jarang mengikuti sholat berjamaah. Tetapi saat setelah mushola itu muncul, para warga pun berbondong-bondong untuk sholat berjamaah dan mulai mengadakan kegiatan-kegiatan di mushola.
Lahan yang digunakan untuk membangun masjid ini ialah dahulunya bekas sendang yang ditengahnya ada pohon beringin, dan konon kata para penduduk yang telah lama tinggal di perumahan tersebut terkadang mereka melihat hal-hal yang misterius di sendang itu dan terdapat lele putih di sendang itu, karena menurut penduduk disana lele putih itu adalah hewan yang biasa digunakan untuk pemujaan atau sesaji. Setelah banyak warga yang mengetahui hal ini, para warga pun gaduh dan langsung melapor kepada sesepuh kampung.   Sesepuh kampung pun langsung mengambil tindakan, yakni menebang pohon beringin tersebut dan memindahkan lele putih itu ke sendang yang lainnya. Lalu selang beberapa waktu sendang yang dianggap misterius tadi di alih fungsikan dan langsung dibangun sebuah masjid oleh sesepuh kampung serta para warga pada saat itu.
Mengapa dinamakan Masjid Bani Sa’ud? Dahulu rencana saat dibangun masjid ini awalnya akan dinamakan masjid Al-Hikmah. Tetapi, saat proses pembangunan sudah dilaksanakan, ada seorang donatur dari Arab Saudi yang datang pada pertengahan proses pembangunan. Beliau mau memberikan donatur kepada pihak masjid, tetapi beliau memberikan syarat agar nama masjid yang sedang dibangun tersebut diganti nama menjadi Masjid Bani Sa’ud. Akhirnya, para warga pun setuju dan nama masjid pun telah diubah.
Masjid Bani Sa’ud memiliki keunggulan dibandingkan dengan Masjid Muhajirin. Walaupun dahulu dari segi kegiatan masjid Muhajirin lebih unggul dari masjid Bani Sa’ud. Karena memang masjid Muhajirin dibangun lebih dahulu dari masjid Bani Sa’ud. Namun sekarang keadaannya sudah berbalik. Karena, masjid Bani Sa’ud lebih banyak memiliki kegiatan dibandingkan dengan masjid Muhajirin, dan para jamaah masjid Muhajirin pun mengatakan bahwa Imam di masjid Bani Sa’ud lebih baik dari pada Imam di Masjid Muhajirin. Adapun kekurangan yang dimiliki oleh masjid Bani Sa’ud yaitu pada bagian fasilitas dan segi bentuk bangunan itu kurang menonjol dari masjid Muhajirin.

II.                Deskripsi Masjid
Masjid Bani Sa’ud memiliki tiga kuba. Meliputi, satu kuba besar yang berwarna hijau serta dua kuba tidak begitu besar yang dimana keduanya berwarna sama yakni berwarna emas. Masjid ini dibangun dengan memiliki dua lantai.
Dimana pada lantai satu, warna masjid sendiri didominasi tembok berwarna putih. Pada tembok lantai satu juga ada hiasan keramik yang bercorak bebatuan alam. Namun ada warna lain yang meramaikan hiasan masjid pula, yaitu aksen-aksen dari jendela dan pintu yang berwarna coklat, serta dibagian depan masjid terdapat warna hijau yang menghiasi tembok bagian depan atas masjid. Ubin pada lantai satu memiliki warna coklat crem yang tidak bermotif. Tetapi, pada bagian depan masjid atau dibagian batas suci ubin tersebut memiliki corak seperti bebatuan alam sama halnya hiasan dinding pada lantai satu.
Di lantai satu terdapat jam dinding besar yang terbuat dari kayu jati, dan diletakkan berada di bagian ujung dalam masjid, serta di lantai satu pun memiliki perpustakaan mini yang memiliki buku-buku sangat bervariasi untuk segala usia dan dapat digunakan oleh masyarakat umum bagi yang mau membacanya.
Dilantai satu terdapat dua ruangan yang memiliki beberapa fungsi. Ruang pertama yaitu terletak pada samping kanan tempat imam yaitu memiliki fungsi untuk meletakan peralatan elektronik masjid seperti mikrofone, kabel-kabel listrik, dan lain sebagainya. Ruangan kedua itu terletak pada samping kiri tempat imam, namun pintunya terletak di luar masjid karena ruangan tersebut digunakan untuk menyimpan keranda mayat. Serta dibagian bawah tangga yang masih memiliki space, dimanfaatkan untuk almari yang digunakan untuk menyimpan peralatan kebersihan masjid.
Tempat wudhu berada pada lantai satu. Tepatnya tempat wudhu pria berada pada utara masjid dan dilengkapi satu kamar mandi. Sedangkan tempat wudhu wanita ada disebelah selatan masjid sama halnya tempat wudhu pria, pada tempat wudhu wanita pun juga dilengkapi satu kamar mandi. Sumber airnya pun berasal dari sumur dalam.
Lantai satu sendiri biasa digunakan untuk sholat berjamaah, kegiatan TPA, pengajian rutin, dan masih banyak lagi. Dan biasanya seluruh kegiatan dipusatkan pada lantai satu.
Di lantai dua, sama halnya pada lantai satu. Warna tembok didominasi berwarna putih. Namun untuk ubin sendiri memiliki warna yang beda, yaitu hijau kebiruan tanpa motif. Di lantai dua sendiri didominasi aksen jendela yang berwarna hijau kebiruan pula, berbeda dengan lantai satu yang banyak dihiasi aksen-aksen yang meriah yang bercorak bebatuan alam.
Dilantai dua memiliki dua ruangan. Dimana kedua ruangan tersebut dulunya adalah kamar penjaga masjid. Namun, sekarang ruangan tersebut kosong dikarenakan para penjaga masjid telah disibukan dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Dilantai dua juga biasa digunakan untuk tadarus para remaja pada bulan Ramadhan, sholat jumat jika kapasitas lantai satu tidak tercukupi, untuk sholat tarawih jamaah perempuan, dan masih banyak lagi kegunaannya.
Itulah sedikit deskripsi Masjid Bani Sa’ud secara detail. Baik dilihat dari segi fungsi atau kegunaan, keindahan yang dimiliki oleh masji, serta ruang-ruangan yang terdapat pada dalam masjid.

III.             Kegiatan Masjid
Masjid Bani Sa’ud sendiri meemiliki kegiatan yang cukup banyak. Kegiatan ini juga dibantu oleh para warga dan jamaah Masjid Bani Sa’ud. Baik dibantu secara moriil dan meteriil, baik secara ikhlas dan sukarela.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Masjid Bani Sa’ud ialah, kajian remaja masjid rutin yang biasanya diadakan setelah sholat magrib berjamaah yang biasa mengundang ustadz atau sesepuh masjid, tadarus keliling yang biasanya dilaksanakan oleh bapak-bapak, pengajian ibu-ibu rutin (pengajian An-nur) yang biasanya dilaksanakan pada hari kamis, TPA anak-anak yang biasa dilaksanakan pada hari rabu dan jumat saja, tapi dahulu TPA di masjid Bani Sa’ud ini dilaksanakan tiga hari dalam seminggu yakni pada hari senin, rabu dan jumat. Karena kegiatan para adik-adik TPA yang padat pula, maka TPA di padatkan menjadi hari rabu dan jumat saja. serta pengajian yang dilakukan pada ahad pagi.   Mungkin dari salah satu kegiatan tersebut ada kegiatan yang unik dan istimewa. Untuk lebih jelasnya nanti ada bagian tersendiri untuk membahas hal unik yang satu ini. Serta ada kegiatan pembagian beras yang sudah dilaksanakan secara rutinya itu setiap bulan yang biasa menghabiskan beras sekitar 100 kilogram beras yang akan dibagikan kepada orang-orang yang kurang mampu. Ada lagi, masjid juga memberikan bantuan atau uang santunan kepada anak yatim dan yatim piatu serta keluarga yang di pandang kurang mampu atau dhuafa.
IV.             Kegiatan Unik Masjid
Tentang kegiatan unik yang dilaksanakan di Masjid, yaitu setiap hari ahad pagi (minggu pagi) di Masjid Bani Sa’ud pada akhir beberapa bulan ini sudah sering diadakan pengajian sehabis sholat subuh berjamaah. Biasanya pengajian ini biasa menghadirkan narasumber atau ustadz dari luar untuk mengisi acara pengajian tersebut, tetapi sering juga mengundang ustadz lokal yang ada pada di perumahan Josroyo indah ini. Seluruh jamaah Masjid yang meliputi bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak, remaja Masjid dan masih banyak lagi. Mereka melaksanakan pengajian ahad pagi selama kurang lebih 30 menit.
Yang unik dari kegiatan ini adalah setelah usai melaksanakan pengajian pasti ada agenda makan bersama. Dikarenakan, agar para warga muslim dapat saling mengenal satu sama lain serta mempererat tali silahturahmi dan agar Masjid semakin ramai pada akhir pekan. Hal ini dikarenakan pula, para jamaah yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing seperti bekerja atau kegiatan yang lainnya agar mereka dapat merasakan bagaimana indahnya kebersamaan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam urusan masak-memasak hidangan untuk para jamaah adalah pihak RT yang digilir untuk mendapat jadwal memasak. Beruntungnya di perumahan Josroyo indah, khususnya di RW 16 ini memiliki banyak sekali RT, ada sekitar 14 RT dan beruntungnya lagi dari setiap pihak-pihak RT yang ditunjuk itu mau untuk berpartisipasi. Tidak hanya orang-orang muslim saja yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Namun, orang-orang non muslim pun juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini khusunya untuk memasak hidangan yang akan disajikan.
Warga non muslim pun terkadang mengikuti kegiatan masjid yang lainnya, seperti kegiatan idul adha. Yakni mereka ikut bergabung untuk memotong-motong daging qurban dan memasak hidangan makan bersama, halal bi halal saat idul fitri, serta ikut bertoleransi saat di masjid sedang ada kegiatan besar yang lainnya seperti pengajian akbar memperingati sesuatu, yaitu dengan cara tidak mengganggu dan masih saling menghargai satu sama lain antar umat beragama.

·         REFLEKSI
Dengan demikian,  berarti Masjid pun turut berperan sebagai pemersatu umat dengan bukti yang sudah saya jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Dan para warga muslim pun juga dapat  saling menumbuhkan sikap toleransi dan tolong-menolong antar umat beragama. Hal ini terbukti pada saat acara pengajian ahad pagi, dimana warga non muslim, pun ikut berpartisipasi. Serta menurut saya Masjid Bani Sa’ud terbilang berpengaruh dalam Sejarah Peradaban Islam di Perumahan Josroyo indah, Jaten. Mengapa? Karena masjid Bani Sa’ud dapat menyatukan para warga yang dahulunya jarang-jarang pergi ke Masjid, dan sekarang pun para warga sudah banyak yang berbondong-bondong pergi ke masjid untuk melakukan ibadah serta bersilahtirahmi kepada seluruh umat muslim, serta dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang tinggi.


LAMPIRAN




Komentar